Kemuliaan Makkah dan Madinah bagi Umat Islam

Si Maniz 7:12:00 PM
Kemuliaan Makkah dan Madinah bagi Umat Islam. Dajjal tidak akan memasuki kedunya hingga akhir zaman. Dalam hadits Fathimah bin Qois radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan, “Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam selain Makkah dan Thoybah (Madinah Nabawiyyah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim no. 2942).



Kemuliaan Makkah bagi Umat Islam

Di Makkah berdiri masajid tertua di dunia. Abu Dzar al Ghifari bertanya, “Masjid apakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Haram.”

Abu Dzar bertanya lagi, “Lantas masjid apa?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Aqsha.” Berapa lama jarak pembangunan kedua masjid itu? “Empat puluh tahun,” kata Rasulullah. (HR: Bukhari).

Sebagaimana Allah menyebutkan mengenai do’a Nabi Allah –kholilullah (kekasih Allah)- Ibrahim ‘alaihis salam; “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Dajjal akan muncul dan menelusuri muka bumi. Tidak ada satu negeri pun melainkan Dajjal akan mampir di tempat tersebut kecuali Kota Makkah dan Madinah karena malaikat akan menjaga dua kota tersebut.

Makkah adalah kota yang dilindungi Allah dari kerusakan dan kepunahan populasinya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah tentang Harāmnya berburu saat berihram: “Sesungguhnya tanah ini telah di-Haram-kan oleh Allah, maka tidak boleh ditebang tumbuhannya, tidak boleh diburu hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut satupun barang yang hilang padanya, kecuali orang yang mencari pemiliknya.” (HR Bukhari).

Ketika Allah menundukkan kota Makkah untuk Rasulullah, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Shalallahu ‘Alaihi Wassallam Makkah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barangsiapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash).” Lalu Abbas berkata: kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: “Kecuali tumbuhan idkhir. (HR Bukhari).

Dibanding kota lain, Allah memberi keistimewaan pada Makkah. Disamping paling tua, shalat di Masjidil Haram juga lebih utama ketimbang di Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya.” [HR Ahmad, Ibnu Majah].

Kemuliaan Madinah bagi Umat Islam

Madinah menjadi kota penting bagi umat Islam. Puluhan ribu orang berkunjung ke kota ini tiap hari. Tak lain, karena di kota ini berdiri masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Masjid Nabawi.

Di dalam masjid ini bersemayam jazad manusia yang sangat dicintau umat Islam di seluruh duni, Rasulullah dan dua sahabat utamanya; Umar bin Khathab dan Abu Bakar. Tentu saja, ribuan orang tersebut datang untuk menziarahi Masjid Nabawi dan makam baginda Rasulullah beserta sahabatnya.

Selain itu, shalat di Masjid Nabawi pahalanya sangat istimewa. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, “Pahala shalat di masjidku ini seribu kali lebih baik dari pahala shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram.”

Masih ada lagi keutamaan dari kota yang dulu bernama Yatsrib ini, antara lain: keberkahannya dua kali lipat keberkahan Makkah. Itu seperti doanya Rasulullah, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim. “Ya Allah, jadikanlah keberkahan di Madinah dua kali lipat dari keberkahan di Makkah.”

Madinah negeri yang baik. Rasulullah bersabda; “Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Mu’adz Al Anbari] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Adi bin Tsabit] ia mendengar [Abdullah bin Yazid] dari [Zaid bin Tsabit] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Madinah itu adalah negeri yang baik. Dan ia akan menyingkirkan para penjahatnya sebagaimana api yang menyingkirkan kotoran perak.” [HR: Hadits Muslim no.2454]

Rasulullah bersabda; “Tidak ada satu negeri pun kecuali akan didatangi (dikuasai) Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di negeri tersebut kecuali ada malaikat yang menjaganya. Kemudian Dajjal datang ke suatu daerah -di luar Madinah- yang tanahnya bergaram. Bergoyanglah Madinah tiga kali, Allah keluarkan dengan sebabnya semua orang kafir dan munafiq dari Madinah.” (HR. Muslim no. 2943)

Tempat utama untuk wafat. “Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mampu meninggal dunia di Kota Madinah hendaknya ia melaksanakannya, sesungguhnya aku akan bersaksi bagi siapa saja yang meninggal di Kota Madinah.” (HR Ibnu Majah)

Hadist yang sama juga diriwayatkan Ibnu Hibban, Ath Thabarani dan Al Baihaqi.

Dengan sejumlah keutamaan tersebut, wajar kalau orang berbondong bondong datang ke Madinah. Barangsiapa melakukan sebuah kejahatan atau melindungi pelaku kejahatan di Madinah, ia akan mendapat kutukan dari Allah, malaikat, dan seluruh umat manusia. Pada hari kiamat, tidak akan diterima amalannya yang wajib maupun yang sunnah.

Pengertian Haji Menurut Bahasa dan Istilah

Si Maniz 11:55:00 PM
Pengertian haji menurut bahasa dan istilah. Agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai persamaan antar manusia, semua dipandang sama kecuali dalam perihal ketakwaan kepada Ilahi. Ketaatan kepada Tuhan semesta alam inilah yang akan mengangkat derajat manusia di akhirat kelak, bukan dari fisik, harta, ataupun popularitas di dunia. Ibadah yang mengharuskan Anda aktif. Ibarat alam semesta yang telah Allah SWT ciptakan yang terus bergerak dalam rotasi dan revolusinya masing-masing.

Pengertian ibadah haji adalah ibadah perpaduan semua unsur. Baik kesiapan hati, harta yang cukup, dan persiapan mental serta fisik. Terakhir adalah panggilan Allah subhanahu wata’ala. Sebuah manifestasi pergerakan umat Islam sedunia yang terkonsentrasi di Mekah setahun sekali. Pergerakan itu didukung kelancaran transportasi.

Ibadah haji merupakan perlambang dari persatuan kaum muslimin dalam satu akidah. Semua manusia berkumpul tidak membedakan ras, warna kulit, bahasa dan wilayah asal mereka. Seluruh jamaah bersatu dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ukhuwah islamiyyah akan sangat terasa bagi mereka yang pernah melaksanakan ibadah yang suci ini. Tidak ada perbedaan antara si kulit putih dan hitam sebagaimana yang terjadi di sebagian belahan dunia hingga sekarang.

Pengertian Haji Menurut Bahasa dan Istilah


Pengertian haji menurut bahasa ialah menuju/mengunjungi. Etimologi bahasa Arab menunjukkan kata-kata ‘Haji’ berarti qashd artinya: bermaksud, tujuan atau mengunjungi. Secara syar’i adalah  menuju baitullah mengunjungi tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah yang ditentukan pula.

Secara estimologi (bahasa), Haji berarti niat (Al Qasdu), sedangkan menurut syara’ berarti Niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus.Temat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas adalah selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jumroh).

Pengertian haji menurut bahasa dan istilah adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang mampu secara material, lahir dan batin. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu adalah bulan-bulan haji yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumroh, dan mabit di Mina.

Haji adalah ibadah yang difardhukan bagi kaum muslimin yang mampu melaksanakannya. Haji pun merupakan pilar Islam yang lima setelah Syahadat, Sholat, Zakat dan Puasa. Menempati urutan terakhir bukan berarti melaksanakan ibadah haji tidak penting, melainkan Allah Maha Tahu akan kemampuan hambanya. Meski ibadah haji hanya diwajibkan satu kali selama hidup, namun tidak jarang orang melaksanakannya berkali-kali.

Jenis-jenis Haji

1. Haji Ifrad
Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad jika sesorang melaksanakan ibadah haji dan umroh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, dengan mendahulukan ibadah haji. Artinya, ketika calon jamaah haji mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah haji. Jika ibadah hajinya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah umroh.

2. Haji Tamattu
Pelaksanaan ibadah haji disebut Tamattu’ jika seseorang melaksanakan ibadah umroh dan Haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan ibadah Umroh. Artinya, ketika seseorang mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah Umroh. Jika ibadah Umrohnya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah Haji.

Tamattu’ dapat juga berarti melaksanakan ibadah Umroh dan Haji didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.

3. Haji Qiran
Pelaksanaan ibadah Haji disebut Qiran jika seseorang melaksanakan ibadah Haji dan Umroh disatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji Qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama.

Bagi setiap muslim harus mempunyai niatan untuk berusaha pergi haji ke Masjidil Haram. Sebab haji merupakan sebagian dari rukun Islam, artinya posisinya penting dalam menunaikan kewajiban dalam beragama Islam. Namun tidak semua orang mempunyai kesempatan atau kekayaan untuk berangkat haji. Tapi pastikan dalam diri sendiri untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah ini suatu saat nanti.

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran

Si Maniz 5:54:00 PM
PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran. PIQ merupakan singkatan dari Pesantren Ilmu Al-Quran. Didirikan oleh KH Bashori Alwi Murtadho pada tanggal 1 Mei 1978. Sesuai dengan namanya, PIQ mempunyai spesialisasi dan prioritas pengajaran pada kitab suci Al-Quran. Hal ini erat kaitannya dengan figur KH Bashori Alwi Murtadho sebagai seorang intelektual dan notabene pendiri Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz, suatu lembaga yang banyak melahirkan intelektual Al Quran di Indonesia.

Pendiri PIQ Singosari Malang, KH Bashori Alwi Murtadho adalah ulama ahli Al Quran yang berpengaruh di dalam maupun luar negeri. Beliau dilahirkan dari pasangan bahagia, Kiai Alwi Murtadlo dan Nyai Riwati. Kiprah dan andil besar KH Bashori Alwi Murtadlo di bidang ilmu-ilmu Al Quran sungguh luar biasa. Bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan (alm.) Fuad Zain, dia pernah diundang untuk membaca Al Quran di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair dan Libya).

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran

KH Bashori Alwi Murtadho tercatat sebagai tokoh kaliber nasional dan internasional di bidang Tilawatil Al Quran. Beliau salah satu pendiri Jam’iyatul Qura’ (Organisasi para qari’ dan penghafal Al Quran), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Al Quran tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. Ustadz juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional. Sampai sekarang, beliau tidak pernah absen menjadi juri, baik pada MTQ dan STQ Nasional, maupun MTQ tingkat provinsi. Di samping itu, beliau dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003).

PIQ Singosari sering dijadikan objek comparative study dan penelitian oleh kalangan pesantren, universitas, dan lembaga-lembaga kajian lain. Namun dalam perkembangannya, Bahasa Arab juga memperoleh porsi perhatian yang besar, sebagai media pengembangan wawasan berpikir dan alat untuk menganalisa keilmuan Islam klasik & modern. Mencetak kader-kader da’i muslim, generasi qurani yang mandiri, yang mampu mengembangkan pengetahuan agama mereka bagi agamanya, bangsa, dan negaranya dengan tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketika santri berada di tengah-tengah kawasan salah satu pondok pesantren terbaik di Jawa Timur ini, mereka akan merasakan nuansa lain dalam belajar. Melalui berbagai saran fisik dan non-fisik yang dimiliki Pesantren ini, para santri telah disiapkan untuk mendapatkan ilmu-ilmu Al Quran dan Bahasa Arab.

Pesantren Ilmu al-Quran Singosari Malang dipercaya umat di dalam pengajaran dan pengembangan ilmu-ilmu agama. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah santri baik lokal maupun non lokal yang berasal dari luar kota (Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Irian Jaya) yang diikuti dengan pencapaian prestasi yang semakin meningkat, baik ketika mengikuti event-event tingkat regional maupun nasional. Bahkan alumni-alumninya semakin banyak yang memegang peranan penting di masyarakat.

PIQ Singosari, mencetak generasi unggul di bidang Al Quran dan Bahasa Arab. Dengan fasilitas yang mumpuni dan konsep pemakaian bahasa asing yang berjalan dengan baik, maka secara sekilas bisa dipastikan bahwa alumninya adalah para santri yang benar-benar siap terjun ke dunia masyarakat. Ibarat berjalan di tengah gurun, para santri seakan menemukan sebuah oase. Jadi tidak berlebihan bila setiap tahunnya banyak calon santri yang mengantri, daftar masuk untuk dicetak menjadi generasi Qurany yang berkualitas.

Kontak
Alamat: Jl. Raya 107 Singosari Malang, 65153
Telepon: 0341 – 458340
Email: info@piqsingosari.com
Website: http://piqsingosari.com/
Grup FB: https://www.facebook.com/groups/piqsingsari/

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran telah berhasil menempati urutan teratas pilihan para orang tua dalam memilih pendidikan terbaik untuk anaknya di bidang Al Quran dan Bahasa Arab karena diasuh langsung oleh Master Al Quran, yaitu KH Bashori Alwi Murtadlo. Di PIQ Singosari diterapkan proses belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan. Selain itu terletak di Malang kabupaten Singosari yang tentunya kawasan sejuk dan indah.

Keutamaan Al-Quran Dibanding Kitab Lain

Si Maniz 5:38:00 PM
Keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain adalah sebagai mukjizat terbesar yang diberikan oleh Allah Taala kepada Nabi Muhammad SAW. Isinya mencakup seluruh aspek agama Islam, mengatur hubungan sesama manusia, sesama makhluk ciptaan-Nya dan juga antara makhluk dengan Sang Pencipta. Memiliki banyak keajaiban yang terkadang sulit dicerna oleh akal manusia, sebagai hamba yang lemah. Tidak ada keraguan di dalamnya. Jika ada sebagian orang yang meragukannya, maka Allah Taala yang akan menunjukkan kebenaran kitabnya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Banyak sekali keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain di seluruh dunia. Kebenaran isi dan pelaksanaannya menunjukkan kemukjizatan Al Quran bagi manusia. Diturunkan secara berangsur-angsur. Melalui kemampuan hafalan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, kemudian dibukukan menjadi satu kitab. Kebenarannya menunjukkan kesempurnaan isinya.

Keutamaan Al-Quran Dibanding Kitab Lain

Merupakan sebuah mukjizat tertinggi yang istimewa dan sulit tergantikan. Kitab mulia ini bahkan tidak akan sanggup ditandingi oleh teknologi apapun di masa yang akan datang. Tentunya tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak membacanya. Diantara keistimewaan Al Quran dibanding kitab lain yang diturunkan sebelumnya ialah:

1. Al Quran memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah dimuat kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, Injil dan lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan yang berupa wasiat. Al Quran juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada para rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, keharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lain-lain.

Allah Taala berfirman, “Kami menurunkan kitab Al Quran kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, untuk membenarkan dan menjaga kitab yang terdahulu sebelumnya. Maka dari itu, putuskanlah hukum di antara sesama mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah. Jangan engkau ikuti nafsu mereka yang membelokkan engkau dari kebenaran yang sudah datang padamu. Untuk masing-masing dari kamu semua Kami tetapkan aturan dan jalan.” (Q.S. Al-Maidah:48)

Jelas bahwa Allah swt. sudah menurunkan keistimewaan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw. dengan disertai kebenaran mengenai apa saja yang terkandung di dalamnya, juga membenarkan isi kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Taala sebelum Al Quran sendiri yakni kitab-kitab Allah yang diberikan kepada para nabi sebelum Rasulullah saw. Bahkan sebagai pemeriksa, peneliti, penyelidik dari semuanya. Oleh sebab itu Al Quran dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu menetapkan mana yang benar, tetapi juga menjelaskan mana yang merupakan pengubahan, pergantian, penyimpangan dan pertukaran dari yang murni dan asli.

Selanjutnya dalam ayat di atas disebutkan pula bahwa Allah Taala memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari Al Quran, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja.

Dijelaskan pula bahwa keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain, diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka.  Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt.

Allah Taala berfirman, “Allah telah menetapkan agama untukmu semua yang telah diwasiatkan oleh-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, (yang semua serupa saja) yakni hendaklah kamu semua menegakkan agama yang benar dan janganlah kamu sekalian berpecah-belah.” (Q.S. Asy-Syura:13)

Kemudian dihapus beberapa hukum yang berhubungan dengan amaliah yang dahulu dan diganti dengan syariat Islam yang merupakan syariat terakhir yang kekal serta sesuai untuk diterapkan dalam segala waktu dan tempat. Oleh sebab itu, maka akidah pun menjadi satu macam, sedangkan syariat berbeda disesuaikan dengan kondisi zaman tiap umat.

2. Keutamaan Al-Quran berupa kalam Allah untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah Taala supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah keistimewaan Al Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Al Quran adalah kitab yang mulia. Tidak akan dihinggapi oleh kebatilan (kepalsuan), baik dari hadapan atau pun dari belakangnya. Itulah wahyu yang turun dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.” (Q.S. Fushshilat:41-42)

Allah Taala berfirman pula, “Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkan peringatan (Al Quran) dan sesungguhnya Kami pasti melindunginya (dari kepalsuan).” (Q.S. Al-Hijr:9). Adapun tujuan menjaga dan melindungi Al Quran dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah Taala dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya.

3. Keutamaan Al-Quran yang dikehendaki oleh Allah Taala akan keabadiannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat Al Quran. Sebabnya tidak lain karena Al Quran adalah firman Allah Taala, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan karya Allah Taala.

Dapat dipastikan bahwa keistimewaan Al Quran tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain. Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Al Quran. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt.

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka kelak bukti-bukti kekuasaan Kami disegenap penjuru dunia ini dan bahkan pada diri mereka sendiri, sampai jelas kepada mereka bahwa Al Quran adalah benar. Belum cukupkah bahwa Tuhanmu Maha Menyaksikan segala sesuatu?” (Q.S. Fushshilat:53).

4. Senantiasa disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu keistimewaan Al Quran sengaja diturunkan oleh Allah Taala dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapa pun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

Allah Taala berfirman, “Sungguh Kami mudahkan pada Al Quran untuk diingat dan dipahami. Tetapi adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar:17). Di antara bukti kemudahan bahasa yang digunakan oleh Al Quran ialah banyak sekali orang-orang yang hafal di luar kepala, baik dari kaum lelaki, wanita, anak-anak, orang-orang tua, orang kaya atau miskin dan lain-lain sebagainya. Mereka mengulang-ulangi bacaannya di rumah atau mesjid. Tidak henti-hentinya suara orang-orang yang mencintai Al Quran berkumandang di seluruh penjuru bumi.

Keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain, jelas tidak ada bandingannya dalam hal pengaruhnya terhadap hati atau kehebatan pimpinan dan cara memberikan petunjuknya, juga tidak dapat dicarikan persamaan dalam hal kandungan serta kemuliaan tujuannya. Tidak ada satu ilmu pun yang terlewatkan di Al Quran, bahkan mampu memaparkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Keajaiban Sedekah Sayyidina Ali dan Malaikat

Si Maniz 5:56:00 PM
Keajaiban sedekah Sayyidina Ali dan Malaikat, memiliki banyak harta tidak selamanya dapat membuat orang bahagia. Tak jarang, harta justru membuatnya tidak tenang dan resah. Karena itulah, sedekah yang Nabi SAW anjurkan sebetulnya, selain untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, juga untuk membuat manusia akan tenang dan tenteram. Kondisi sehat dan cinta terhadap harta, bisa menjadi penghambat seseorang untuk mengeluarkan sedekahnya. Padahal, menurut Nabi SAW justru pada saat−saat itulah, sedekah memiliki nilai yang utama di sisi Allah SWT.

Tiap insan hendaknya selalu memberi hal bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

Keajaiban Sedekah Sayyidina Ali dan Malaikat

Sedekah seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya. Berikut ini adalah,

Suatu hari setelah pulang dari rumah Nabi SAW, Ali melihat Fatimah sedang berdiri di teras rumah.

“Wahai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.
“Demi Allah, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu-bulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”

“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”
Fatimah pun memberikan uang tersebut.

Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”

Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Fatimah yang melihat Ali pulang dengan tangan hampa langsung menangis.
“Mengapa kamu menangis?”
“Kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Ke mana uang yang enam dirham tadi?”
“Isteriku yang mulia, aku telah meminjamkannya kepada Allah.” Mendengar jawaban Ali, Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakanmu!”

Lalu Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rasulullah SAW. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki, “Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”
“Aku tak punya uang,” kata Ali
“Bayarnya belakangan saja.”
“Berapa?”
“Seratus dirham.”
“Baik. Kalau begitu aku beli.”
Setelah diberikan untanya kepada Ali, dan Ali pun ingin kembali pulang untuk meletakkan untanya di sekitar rumahnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.
“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”
“Ya.”
“Berapa?”
“Tiga ratus dirham.”
“Ya, aku beli.”
Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengambil unta tersebut.

Ali pun bergegas pulang ke rumahnya. Fatima tersenyum melihat wajah Ali yang sumringah.
“Kelihatan begitu gembira, apa yang terjadi, suamiku?”
“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”
“Aku setuju.”

Setelah berdialog di rumahnya, Ali pamit kepada Fatimah mau menemui Rasulullah SAW di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi SAW tersenyum melihatnya.
“Hai Abu Hasan! Akan kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”
“Anda saja yang cerita, ya Rasul,” jawab Ali.

“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”
“Tidak. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Dan Allah memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Malaikat Jibril dan yang terakhir datang adalah Malaikat Mikail.”

Kisah sedekah Ali bin Abi Thalib diatas bisa dibaca di dalam kitab al-Ushfuuriyyah. Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang mendapat cerita dari ayahnya yang mendengar dari kakeknya mengenai perilaku Ali.

Keistimewaan Bekerja Menurut Agama Islam

Si Maniz 6:37:00 PM
Keistimewaan bekerja menurut agama Islam, bekerja bukanlah sebatas kegiatan rutinitas untuk memenuhi nafkah diri dan keluarga, melainkan merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). Ibadah yang disyariatkan, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, haji, dan umrah identik dengan biaya atau ongkos. Dengan kata lain, semua jenis ibadah itu tak dapat ditunaikan dengan baik dan sempurna, kecuali dengan adanya biaya atau harta.

Bekerja maupun berbisnis adalah ibadah. Bahkan dalam volume tertentu, ibadah shalat dan puasa pun memerlukan biaya atau ongkos. Fasilitas shalat seperti masjid, mushala, sajadah, pakaian dan seumpamanya membutuhkan biaya. Begitupun hidangan untuk makan sahur dan berbuka puasa yang juga memerlukan biaya. Dan, biaya atau harta tersebut dapat diperoleh, utamanya dengan bekerja.

Sebuah kaidah fikih yang menyatakan, "Suatu kewajiban tidak bisa dilaksanakan, melainkan dengan suatu jalan, maka jalan itu hukumnya wajib. "Agar memperoleh keutamaan tersebut, setiap pekerja mukmin wajib memperhatikan dan mengamalkan prinsip dan etika bekerja dalam Islam. Mulai dari niat misalnya, bekerja hendaklah diniatkan sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT, disertai kepribadian yang jujur, amanah, dan sabar dalam bekerja.

Keistimewaan Bekerja Menurut Agama Islam
Bekerja, apa pun jenis pekerjaan dan profesinya, selama dikerjakan dengan baik dan tidak melanggar prinsip syariat agama, itu dipandang mulia. Lihatlah potret kehidupan para Nabi dan Rasul, mereka juga bekerja dan tidak pernah memandang hina atau gengsi suatu pekerjaan. Oleh sebab itu, bekerja untuk mendapatkan harta dalam rangka ibadah kepada Allah hukumnya wajib (QS at-Taubah:105).

Sebuah riwayat dari Ibn Abbas menceritakan, "Nabi Daud bekerja sebagai tukang besi, Adam sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai tukang jahit, dan Musa sebagai penggembala kambing." (HR Hakim). Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah SAW pernah bekerja sebagai buruh. Beliau pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dan pernah bekerja menjalankan perniagaan milik Khadijah.

Keistimewaan bekerja menurut agama Islam diantaranya Nabi SAW bersabda, "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan dia menggembala kambing." Mereka (para sahabat) bertanya, "Dan engkau juga wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya aku menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath." (HR Bukhari).

Bekerja yang dilakukan ikhlas semata-mata ibadah kepada Allah akan mendapat ampunan (magfirah). Bahkan, ada dosa yang tidak dapat diampuni dengan hanya ibadah shalat, puasa, zakat, haji, dan umrah. Kecuali, dengan semangat bekerja untuk mencari rezeki (HR Ibn `Asakir).

Keistimewaan bekerja menurut agama Islam salah satunya adalah Allah SWT mencintai seorang mukmin yang giat bekerja (HR Thabrani). Mukmin yang bekerja untuk memberi makan dan memenuhi nafkah keluarganya karena semata-mata ibadah kepada Allah maka akan dijaga dari sentuhan api neraka. Sebagaimana kisah sahabat, Sa'ad bin Muadz al-Anshari, yang sering kita dengar. Ketika Rasulullah SAW mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka." (HR Thabrani).

Agama Islam juga tak menganggap wanita hanya sebagai pengangguran, atau harus di rumah saja, seperti yang dituduhkan sejumlah kalangan. "Sebaik-baik canda seorang Muslimah di rumahnya adalah bertenun," demikian sabda Nabi Muhammad SAW yang menekankan agar wanita juga harus tekun berkarya.

Untuk memperoleh keistimewaan bekerja menurut agama Islam hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan profesional. Seorang pekerja Muslim harus bersungguh- sungguh, tekun, disiplin, dan kompak. Memiliki kompetensi atau keahlian di bidangnya, sekaligus bertanggung jawab dalam mengeksekusi pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugasnya dengan baik. (HR Baihaqy dari `Aisyah).

Selain itu, jenis pekerjaan atau usaha yang ditekuni harus halal dan baik (halalan thayyiba). Terhindar dari unsur syubhat (samar dan meragukan kehalalan dan keharamannya). Maknanya, pekerjaan yang diridhai Allah, sesuai atau tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Termasuk, dalam adab kerja ini adalah tidak menghalangi dan melalaikan ibadah kepada Allah. Terutama ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, ataupun ibadah haji. Nabi SAW pun berpesan bagi mereka yang bekerja, termasuk kaum wanitanya. "Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang melakukan satu pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan profesional (al-itqan)." (HR al Baihaqi, Abu Ya'la, Ibn Asakir)

Alasan Mengapa Umat Islam Harus Menyayangi Kucing

Si Maniz 1:18:00 AM
Alasan mengapa umat Islam harus menyayangi kucing. Memelihara binatang peliharaan bagus untuk kesehatan fisik dan mental. Begitulah pendapat para psikolog di dunia. Dengan ditemani hewan peliharaan, biasanya orang akan merasa lebih rileks, tenang, dan bahagia, bahkan dibanding dengan ditemani pasangannya sendiri. Ada banyak binatang peliharaan yang bisa dipelihara, salah satunya kucing.

Alasan Mengapa Umat Islam Harus Menyayangi Kucing


Pada abad ke-13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat Islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para Khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya. Berikut ini beberapa alasan mengapa umat Islam harus menyayangi kucing:

1. Meneladani Nabi Muhamammad Pecinta Kucing
Nabi Muhammad memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Tak hanya Rasulullah SAW, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing.

2. Neraka Balasannya Bagi Penyiksa Kucing
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai” (HR. Bukhari). Inilah diantara alasan mengapa umat Islam harus menyayangi kucing.

3. Fisik Kucing Tidak Najis
Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. Nabi menekankan di beberapa hadits bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

4. Banyak Bukti Ilmiah Tentang Kucing
Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya. Hasil yang didapatkan
-Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
-Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
-Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
-Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
-Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
-Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

Komentar Para Dokter Peneliti
-Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing.
-Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
-Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak terdapat pada anjing,
-Manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.
-Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme.
-Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll)
-Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.
-Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.

5. Dengkuran Kucing Sebagai Penurun Stres Bagi Manusia
Alasan selanjutnya mengapa umat Islam harus menyayangi kucing adalah di zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.

6. Sisa Makanan Kucing Hukumnya Suci
Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R Al Baihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni). Hadits ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia.

7. Abu Hurairah (Bapak Kucing Kecil)
Seorang sahabat yang juga ahli hadist yang terpopuler dan terbanyak hafalan haditsnya. Beliau adalah Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing kecil), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Demikianlah alasan mengapa umat Islam harus menyayangi kucing.