Pak Guru, Saya Ingin Mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” Kepada Ibu dan Ayah Saya di Hadapan Allah di Akherat Kelak

5:35:00 PM



Diceritakan oleh seorang Khatib ketika Khutbah Jum'at. Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah. 

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar. 

“Waduuuh saya sibuk mah, kamu aja deh yg datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya. 

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya. 

Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2. Ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah2 mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya. 

Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.” 

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.

”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar.

Lalu Umar pun membaca ayat 9.

”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.

Si Umar pun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai."

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).


Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tsb… 

Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya. 

”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al Quran.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2.

Semua jama’ah pun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.

Diantara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya membaca Al Quran, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya.

Wallahu ‘alam bish shawab.

Manfaat Menikah Menurut Islam dan Al-Quran

Si Maniz 9:49:00 PM
Manfaat menikah menurut Islam dan Al-Quran. sebagaimana diketahui, anak menjadi idaman dan harapan Ayah dan Ibu. Anak yang kelak menjadi penerus dan pelanjut generasi Bapak dan Emak. Dari keluarga kemudian terbentuk masyarakat, bangsa dan peradaban umat manusia. Peradaban umat manusia akan terus langgeng dan eksistensi manusia dapat terjaga. Aspek regenerasi inilah sangat ditekankah oleh Allah Ta’ala dan penerus anak cucu Adam.

Keuntungan besar menikah dalam agama disebutkan dalam Al-qur’an bahwa manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Perjumpaan antara laki-laki dan perempuan merupakan sunnatullah. Kualitas generasi ditentukan oleh keluarga. Perhatian pada pendidikan moral, intelektual (kognitif), emosional (afektif), dan psikomotorik (kreatifitas) menjadi penting. Bobot peradaban manusia akan lebih utuh.

Sunnah Rasulullah SAW, rumah tangga dan peradaban umat manusia sangat berhubungan erat. Dengan menikah, sebuah keluarga terbentuk, dan dari keluarga itu lahirlah generasi. Anak adalah generasi manusia yang melanjutkan peradaban manusia. Peradaban manusia yang menjanjikan sangat tergantung sejauhmana kualitas generasi pelanjutnya. Generasi yang buruk berarti melahirkan peradaban buruk.

Calon suami istri yang menikah karena Allah Ta’ala akan senantiasa menghasilkan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Namun bila tujuan yang diniatkan pada awalnya buruk, maka mungkin saja akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan dalam pernikahan. Oleh karena itu, banyak orang tua yang selalu menanyakan tujuan pernikahan kepada anak mereka karena ingin memastikan bahwa apa yang dicita-citakan oleh anak mereka dalam suatu hubungan pernikahan adalah hal yang baik.

Manfaat Menikah Menurut Islam dan Al-Quran
 Membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah merupakan tujuan mulia bagi sepasang suami isteri. Pondasi akidah yang kuat serta tsaqofah Islam yang luas akan memudahkan jalan untuk menggapai kemuliaan dalam berumah tangga. Menggali dan terus belajar tentang ilmu islam dapat memperkokoh bangunan keluarga, sebab setiap keluarga akan menemui masalah kehidupan dan solusinya dengan mengembalikannya kepada Alqur’an dan As Sunah.

Anak merupakan investasi yang sangat berharga bagi keluarga dan masyarakat. Anak-anak yang saat ini masih kecil nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Di pundak merekalah masa depan kesejahteraan ummat akan dibebankan. Memberikan mereka bekal tauhid dan akhlak semasa kecil akan menjadikan mereka sosok yang dapat diandalkan saat menginjak dewasa. Dibawah ini adalah beberapa hikmah menikah dalam agama Islam:

1. Rejeki Makin Melimpah
Dari Abu Hurairah ra., Nabi saw. bersabda: “Allah enggan untuk tidak memberi rezeki kepada hamba-Nya yang beriman, melainkan pasti diberinya dengan cara yang tak terhingga.” (HR. Al-Faryabi dan Baihaqi)

Dari Jabir ra., ia berkata: “Nabi saw. bersabda: ‘Ada tiga hal bila orang melakukannya dengan penuh keyakinan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya berkah. Orang yang berusaha memerdekakan budak karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah. Orang yang menikah karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah …..’” (HR. Thabarani).

Dari Jabir ra., ia berkata: “Nabi saw. bersabda: ‘Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala, yaitu : seorang budak yang berjanji menebus dirinya dari majikannya dengan penuh iman kepada Allah ta’ala, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membelanya dan membantunya; seorang lelaki yang menikah guna menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah (zina), maka Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya rezeki …..’.” (HR. Dailami)

“Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).” (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

2. Memperoleh Pertolongan Allah Swt
Bila cowok dan cewek menikah maka akan mendapatkan pertolongan dari Allah di hari kiamat kelak: “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah:
a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah.
b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya.
c. Perempuan dan laki-laki yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

3. Mendapat Pahala Berlipat Ganda

Hikmah pernikahan dalam Islam selanjutnya adalah memperoleh pahala berlipat ganda. Pahala orang yang menikah itu lebih banyak dibanding yang belum menikah dalam perkara beramal. Semangat beibadah dalam keluarga akan otomatis berdampak positif kepada perkembangan anak. Sang anak akan mendapatkan tauladan dari orang tuanya tentang pentingnya belajar Islam.

Mendirikan shalat wajib 5 waktu bersama seluruh anggota keluarga dapat dijadikan salah satu sarana untuk memperoleh pahala berlipat ganda dengan semangat keislaman. “Dua rakaat yang dilakukan orang yang sudah berkeluarga lebih baik dari tujuh puluh rakaat shalat sunah yang dilakukan orang yang belum berkeluarga.” (HR. Ibnu Adiy dari Abu Hurairah)

4. Dosa Diampuni Ketika Bermesraan Dengan Pasangan
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh Rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a)

5. Menggenapkan Setengah Agama Islam
“Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” (HR At-Thabrani)

Imam Al Ghazali mengatakan bahwa hadits diatas memberikan isyarat akan keutamaan menikah dikarenakan dapat melindunginya dari penyimpangan demi membentengi diri dari kerusakan. Dan seakan-akan bahwa yang membuat rusak agama seseorang pada umumnya adalah kemaluan dan perutnya maka salah satunya dicukupkan dengan cara menikah.”

Segudang Manfaat Istighfar bagi Umat Muslim

Si Maniz 6:20:00 AM
Segudang Manfaat Istighfar bagi Umat Muslim. Beristighfar hakikatnya memohon ampun. Bukan istighfar yang spontan keluar tanpa kesadaran. Sebaliknya, beristighfarlah dengan kesadaran dan penyesalan. Memohon ampun dan bertaubat, niscaya Allah akan memberikan ampunan. Dosa manusia ibarat buih di lautan, sangat banyak dan tidak terhitung, akan tetapi ampunan Allah lebih luas dari itu. Bersegeralah bersujud memohon ampunan pada sanga Maha Pengampun. Karena jika tiba hari di mana taubat tidak lagi diterima, sungguh kita termasuk orang yang merugi.

Manusia dan dosa, sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Di mana ada manusia, di sana pasti terdapat noda. Tak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa, kecuali Rasulullah SAW, yang memang sudah dijamin Allah ma’shum (terbebas dari dosa). Al Ghofar, salah satu nama Allah diantara 99 asma’ul husna, yang berarti Maha Pengampun. Allah akan memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang bertaubat dan memohon ampun. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiyaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An Nisa: 110)

Segudang Manfaat Istighfar bagi Umat Muslim

Allah sangat menyukai orang-orang yang bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika saja kalian tidak pernah berbuat dosa, pasti Allah sudah melenyapkan kalian, kemudian mendatangkam suatu kaum yang berbuat dosa. Kemudian memohon ampun kepada Allah, lalu Allah pun akan mengampuni mereka.” (HR. Muslim)

Hadits di atas bukan berarti lantas kita bebas berbuat dosa. Itu menunjukkan betapa Allah sangat menyukai orang-orang yang memohon ampunan-Nya. Saat melakukan kesalahan, besar atau kecil, memohonlah ampun kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan ampunan.

Iblis sejatinya telah bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Adam hingga mereka terjebak ke dalam dosa dan kemaksiatan. Namun, Allah -sekali lagi- adalah Maha Pengampun. Dia tidak akan pernah berhenti memberi ampunan.

Rasulullah SAW bersabda, “Iblis pernah berkata, ’Demi kemulian-Mu, aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan hamba-hamba-Mu selama ruh masih menempel di badan mereka.’ Kemudian Allah berfirman, ’Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti memberikan ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampunan-Ku.’” (HR Ahmad dan al Hakim dalam kitab shahihnya dan disetujui oleh adz Dzahabi)

Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfiman, ’Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu atas segala dosa-dosamu dan Aku tidak memperdulikan kecil dan besarnya dosa. Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu sampai ke langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka pasti aku akan memberikan ampunan kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku, tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, maka pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Basyar, dari Ibnu Majah dengan sanad yang shahih, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Berbahagialah bagi orang yang di dalam catatan amal mereka menemukan istighfar yang banyak.”

Disadari atau tidak, dalam sehari kita bisa saja berbuat lebih dari satu dosa, baik yang disengaja atau tidak. Baik dosa yang berhubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain; seperti sombong, riya’, ghibah, dzalim, riba bahkan meninggalkan shalat. Coba saja kita tulis, amalan shalih dan keburukan yang kita buat dalam satu hari, lalu bandingkan! Jika kita mau jujur, daftar keburukan akan lebih banyak dari pada amalan shalih. Itu catatan kita, bagaimana dengan catatan malaikat? Bukankah di hari akhir nanti, catatan-catatan ini akan dihisab dan ditimbang, amalan atau dosa yang lebih berat?

3 Pahala Abadi Meski Orangnya Telah Mati

Si Maniz 6:04:00 AM

3 pahala abadi meski orangnya telah mati. Kehidupan umat manusia di dunia ini, tidaklah abadi ataupun kekal selamanya. Hidup di dunia ini akan berakhir dan berlanjut pada kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Di dunia, sebagaimana orang-orang bijak mengatakan, “cuma sekedar numpang minum". Hanya mampir untuk sekedar melepas dahaga.” Juga seringkali diibaratkan sebagai sebuah perjalanan. Tak salah, karena sejatinya, kehidupan ini memang mirip dengan perjalanan. Mulai dari ketika Allah mengutus seorang malaikat untuk meniup ruh pada jasad kita ketika bayi, hingga di akhirat kelak. Setiap tahapannya mirip dengan perjalanan.

Masa hidup di dunia adalah tempat bagi kita untuk melepas dahaga dan mempersiapkan bekal menuju perjalanan ke akhirat. Barangsiapa yang banyak berbekal dengan kebaikan, niscaya Allah akan mudahkah jalannya di akhirat kelak. Ada yang mengatakan, “Ad-dunyaa mazro’atul aakhiroh. Dunia adalah tempat kita menanam untuk kemudian kita memanennya di akhirat.” Maka tak heran, kita harus beramal sebaik-baiknya untuk akhirat kelak.

Ketika berada di dunia ini, akan ada waktu bagi kita untuk berbekal dengan kebaikan dan amal shalih. Namun, bagaimana ketika kita sudah tak berada di dunia ini?

3 Pahala Abadi Meski Orangnya Telah Mati


Jawabannya ada pada sebuah hadits yang pernah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada para Sahabat terdahulu. Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.”  [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Ketika anak cucu Adam meninggal, maka semua amalannya akan terputus. Namun, ada tiga amalan yang tak akan terputus meskipun seseorang meninggalkan dunia ini. Ada sajakah ketiga amalan itu?

Pertama, sedekah jariyah. Apakah sedekah jariyah itu? Sedekah jariyah adalah ketika kita menginfakkan harta kita atau apapun yang kita miliki agar bisa bermanfaat bagi banyak orang meskipun kita telah tiada. Semisal membangun masjid, membuat hal yang bisa dimanfaatkan orang banyak, dan macam-macam perbuatan yang masih bisa dirasakan manfaatnya sepanjang waktu.

Kedua, Ilmu yang bermanfaat. Yaitu segala macam ilmu yang ia ajarkan kepada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku, atau hal-hal lain sebagai wasilah untuk menyampaikan ilmunya agar bisa bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.

Ketiga, anak yang shalih, karena ketika seorang anak itu menjadi shalih merupakan hasil dari kerja keras orang tuanya dalam mendidiknya. Islam sangat menganjurkan seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka terutama dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak shalih. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu orang tuanya masih mendapatkan pahala meskipun orang tuanya sudah meninggal dunia, yaitu melalui doa anaknya.

Nah, itulah tiga hal yang sangat bermanfaat bagi kita saat di akhirat kelak meskipun kita tak lagi ada di dunia. Marilah kita berusaha untuk memperbanyak amal shalih kita untuk bekal di akhirat kelak.

Sejarah Uwais Al Qarni

Si Maniz 4:59:00 AM
Sejarah Uwais Al Qarni. Kisah orang-orang pilihan hendaknya patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama mereka yang memiliki amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.

Sejarah Uwais Al Qarni



Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.

Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”

Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”

Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.

“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR. Muslim no. 2542)

Akhlak Muslim, Kewajiban Menghormati Tetangga

Si Maniz 6:28:00 AM
Akhlak Muslim, Kewajiban Menghormati Tetangga. Sudahkah kita mencintai tetangga seperti mencintai diri kita sendiri? Jika belum, berarti belum sempurna iman kita, sebagaimana sabda Nabi SAW di atas. Tetangga kita apa dan bagaimanapun “rasanya”, Rasulullah SAW sebagai teladan, mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, mencintai mereka sebagaimana mencintai diri kita sendiri. Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda, ”Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak dikatakan beriman seorang hamba hingga ia mencintai saudaranya (tetangganya) seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim).

Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri dan pasti selalu membutuhkan orang lain dalam setiap aktivitasnya. Apalagi dalam hidup bermasyarakat. Bagi seorang perantau, ada orang yang kedudukannya lebih dekat daripada keluarga, yaitu tetangga. Hidup bertetangga itu seperti jargon sebuah produk, rame rasanya. Ada manis, asam dan asin. Ada tetangga yang baik dan ramah, ada tetangga yang suka menggunjing orang lain, ada tetangga yang tipenya komentator, semua dia komentari. Ada juga yang cuek, sampai tidak peduli ketika tetangga sebelah sakit gigi, dia asik karaokean dengan volume cetar.

Faktanya, banyak sekali kehidupan bermasyarakat yang tidak sesuai dengan sunah Rasul SAW, terlebih di daerah perkotaan. Bagaimana bisa mencintai mereka, sedangkan betegur sapa saja sangat jarang. Sudah bukan rahasia lagi jika adab-adab bertetangga sudah mulai ditinggalkan di era yang serba modern seperti sekarang ini.

Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (Q.S An-Nisaa : 36). Menurut Islam, ada hak dan kewajiban dalam hidup bermasyarakat. Rasulullah SAW bahkan sempat mengira bahwa tetangga akan menjadi salah satu ahli waris, saking banyaknya perintah Allah untuk memuliakan tetangga.

Akhlak Muslim, Kewajiban Menghormati Tetangga

Bagaimana agar kita bisa menjadi muslim yang bisa mencintai tetangganya sebagaimana mencintai diri sendiri? Sesungguhnya dalam diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik. Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Sebagai seorang muslim, tidak ada contoh sempurna kecuali beliau. Maka dari itu, untuk menumbuhkan rasa cinta kasih di antara tetangga, hal yang perlu kita lakukan adalah saling memuliakan.

Dari Muadz bin Jabal, mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah apa hak tetangga atas tetangga?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika dia berhutang kepadamu, hendaklah kau utangi. Jika meminta bantuan, hendaklah kau bantu. Jika sakit hedaklah kau jenguk. Jika membutuhkan, hendaklah kau beri. Jika miskin, hendaklah kau bantu. Jika ia mendapat kebaikan hendaklah kau beri selamat. Jika ia terkena musibah, hendaklah engkau berbelasungkawa. Jika ia meninggal, hendaklah engkau mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Janganlah meninggikan bangunan di atas bangunannya hingga menghalagi angin darinya, kecuali atas seiizinnya. Jangan mengganggunya dengan aroma masakanmu, kecuali engkau memberinya. Jika engkau membeli buah, maka hadiahilah dia, dan jika engkau tidak melakukannya, maka masukanlah secara sembunyi-sembunyi.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath Thabrani. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan, “Sanad-sanadnya lemah (wâhiyah), tetapi beragamnya jalurnya mengindikasikan hadis tersebut memiliki asal.”

Memuliakan tetangga berarti memenuhi hak mereka. Selain karena ini adalah hal yang diperintahkan Rasulullah SAW, yang insya Allah mendapatkan ganjaran pahala jika dilakukan, juga dapat menumbuhkan cinta kasih di antara keduanya. “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur, maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim)

Alih-alih memerintahkan sahabatnya untuk membagikan/memperbanyak sayurnya, Rasulullah SAW malah menyuruh menambahkan air yang banyak hingga bisa dibagikan ke tetangga. Selain itu jika ada tetangga yang memberikan makanan yang sedikit, atau hanya kuah, kita dilarang untuk mencela. Memenuhi hak mereka bukan berarti mengabaikan hal diri sendiri. Penuhilah dengan kadar kemampuan yang kita miliki. Jangan memaksakan diri hingga mendzolimi keluarga sendiri. Rasulullah bahkan memberikan solusi bagaimana bisa berbagi dengan keterbatasan.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai wanita-wanita muslimah, seorang tetangga tidak boleh menyepelekan tetngga yang lainnya meskipun mereka memberikan hadiah tulang kambing yang sedikit dagingnya.” (Mutafaq’alaih)

Seburuk-buruknya tetangga, jangan sampai kita lupa untuk memenuhi hak-hak mereka. Teruslah berbuat baik, karena di dalamnya ada perintah Allah SWT dan label orang yang beriman adalah mereka yang bisa memuliakan tetangganya.

Cara Membangun Keluarga Sakinah dalam Agama Islam

Si Maniz 7:44:00 PM
Cara Membangun Keluarga Sakinah dalam Agama Islam. Sesungguhnya pada diri Rasulullah suri teladan yang bagus bagi kalian. Bagaimanakah cara rasul dalam berumah tangga dan berinteraksi dengan keluarga beliau. Dan bagaimana pula para istri Ummahatul Mukminin berinteraksi dengan rasulullah untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Suaru seorang sahabat bertanya kepada Aisyah, Apa yang biasanya dilakukan oleh Rasul di rumah? Aisyah menjawab, Rasulullah biasa melayani atau membantu istrinya dalam pekerjaan rumah dan jika datang waktu shalat beliau pun keluar rumah untuk melaksanakannya. (HR Bukhori).

Setiap manusia sudah diberikan pasangannya masing-masing, setiap pasangan muslim bercita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah. Dan setiap ada teman, kerabat, sahabat dan keluarga yang menikah kebanyakan doa yang diberikan adalah agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Ungkapan itu menjadi familiar dan menjadi hal yang umum bagi umat muslim. Ada beberapa orang menyebutkan keluarga yang sakinah itu adalah keluarga yang dibangun dengan hukum-hukum islam atau keluarga yang harmonis dan bahagia atau keluarga yang sama-sama mengingatkan jalan menuju surga.

Cara Membangun Keluarga Sakinah dalam Agama Islam

Suami adalah sebagai kepala keluarga, pemimpin keluarga yang mempunyai kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Sementara itu istri memiliki peran penting juga, dimana tugas utamanya adalah sebagai ibu dan sebagai manajemen atau pengatur rumah tangga. Selain itu anak bertugas untuk berbuat baik, patuh, dan taat kepada kedua orang tua selama orang tua masih memberikan perintah atau nasihat yang baik dan benar di jalan Allah. Semoga kita semua bisa mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dalam bahasa arab sakinah berarti kedamaian, ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan. Jadi arti keluarga sakinah itu menurut defenisi bahasa adalah membangun sebuah keluarga atau rumah tangga yang damai, tentram dan penuh kebahagiaan. Apa itu arti mawaddah: Dalam bahasa mawaddah itu berarti cinta atau suatu harapan. Mawaddah akan terwujud jika sebuah pernikahan yang dibangun dengan cinta antara suami dan istri dalam keadaan susah maupun senang dan mempertahankan cintanya selamanya. Apa itu arti warohmah: Atau (wa rahmah) yaitu kata tunggalnya adalah rahmah. Yang berarti kasih sayang. Kasih sayang yang tulus sangat penting dalam sebuah keluarga untuk mencapai suatu keluarga yang berbahagia. Jika digabungkan arti sakinah mawaddah warohmah dalam suatu keluarga adalah suatu keluarga yang damai, tentram, penuh cinta dan juga kasih sayang.

Untuk mewujudkan keluarga sa-ma-ra (sakinah mawaddah warohmah) itu tentu dibutuhkan sebuah perjuangan yang di bangun dengan sebuah niat, mengikuti aturan al qur’an dan tentunya mengikuti petunjuk dari nabi Muhammad s.a.w. Dimana keluarga impian umat muslim itu adalah keluarga yang hidup saling mencintai, saling mendukung, saling mengasihi dan saling pengertian karena mengharap ridho Allah s.w.t.

Tapi, bagaimanakah konsep keluarga sakinah itu menurut islam yang sebenarnya? Apakah arti dari sakinah, mawaddah, warahmah itu? Bagaimana memilih calon pendamping yang benar? dan apa tujuan dari perkawinan? dan apa saja hak dan kewajiban dari kedua belah pihak? Marilah kita sejenak melihat lebih dekat mengenai keluarga sakinah menurut islam, agar kita mempunyai pemahaman yang kuat dan niat yang jelas tentang keluarga sakinah menurut islam.

Tentunya semua itu berdasarkan syariat islam dalam rangka ibadah kepada Allah s.w.t dengan tujuannya antara lain adalah menjaga kehormatan, melahirkan keturunan dan mempererat silaturahmi secara islami. Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!! Untuk mewujudkan sebuah keluarga samara, tentunya semua anggota keluarga mempunyai peran-peran penting. Islam telah jelas-jelas memberikan apa saja tugas dan fungsi masing-masing anggota keluarga yang harmonis, diliputi suasana iman, takwa dan bahagia.

Tentunya ada banyak hikmah dan kebahagian yang didapat ketika Allah SWT mensyariatkan pernikahan kepada umatnya, yang disifatkan didalam alqur’an dengan ‘Miitsaaqan Galiidzan’ (tali ikatan yang berat). Dimana pernikahan itu tidaklah hanya sebagai pemenuhan atau penyaluran seksual secara halal namun ada pula tujuan yang lebih agung dari pada itu. Dari sebuah ikatan pernikahan diharapkan juga dapat menciptakan keluarga yang berbibit kan ketenangan dan sakinah, berbuah cinta kasih dan mawaddah, dieratkan pula dengan kasih sayang dan rahmah bagi keduanya.

Dalam rumah tangga yang samara dibutuhkan juga untuk saling memahami perasaan pasangan. Sesungguhnya aku tahu jika kamu sedang ridho terhadap ku atau ketika kamu sedang marah kepadaku”, begitu suatu kali Rasulullah menegur Aisyah. “Jika kau ridho terhadap ku, kau akan berkata: “Tidak, demi Tuhan Muhammad”, tetapi jika kau marah, kau berkata, “Tidak, demi Tuhan Ibrahim”. (HR. Muslim).

Cara Mensyukuri Nikmat Allah Ta'ala Menurut Islam

Si Maniz 6:13:00 AM
Cara mensyukuri nikmat Allah Ta'ala menurut Islam. Melakukan rutinitas kegiatan yang sama dari hari ke hari tanpa berusaha menjadikan diri ini menjadi lebih baik. Selain itu, ada juga golongan orang yang bukan sekedar tak bersyukur tetapi malah menyesali takdir. Selalu mempertanyakan kenapa begini dan kenapa begitu. Atau selalu berkata seandainya begini dan seandainya begitu tanpa ada usaha yang nyata. Terlebih dari itu, mereka bahkan tak menyadari ada potensi luar biasa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Salah satu bentuk syukur kita tak lain dengan mengetahui, memahami dan mengembangkan semaksimal mungkin potensi yang telah Allah beri melalui berbagai skill luar biasa.

Selayaknya seorang muslim itu senantiasa bergerak untuk menghasilkan keberkahan hidup. Sebagaimana pepatah arab mengatakan “Taharrok fainna Fil harokah barokah”, yang artinya bergeraklah, karena di dalam pergerakan itu ada keberkahan (kebaikan). Jika ghirah terhadap kebaikan sudah lemah, dan semangat fastabiqul khoirot sudah lenyap dari hati dan fikiran kita, maka hal ini berpotensi akan mematikan hati. Jika hati sudah mati, hilanglah kepekaan terhadap peluang kebaikan.

Banyak hal yang bisa kita petik dari kisah mereka yang terlebih dahulu telah sukses. Mungkin kita akan mendapati bahwa kesuksesan mereka tak datang begitu saja. Tapi berawal dari usaha mereka, keoptimisan mereka sebagaimana katak yang optimis menjalani hidup di luar tempurung. Kita juga akan mendapati mungkin hidup mereka dahulu jauh lebih buruk dari kita, tinggal di rumah yang lebih sederhana dari kita, makan dengan makanan yang jauh lebih tak enak dari kita.

Cara Mensyukuri Nikmat Allah Ta'ala Menurut Islam


Ketika kepekaan terhadap peluang kebaikan atau amal shalih sudah hilang, maka kehidupan akan terasa hampa., seolah menjadi wujuduhu kaadamihi, keberadaannya sama seperti tidak ada. Bergeraklah untuk menangkap peluang-peluang amal shalih yang setiap hari berseliweran di hadapan kita. Karena keengganan kita dalam bergerak untuk mengambil peluang amal shalih, itu mengindikasikan lemahnya ghirah kita terhadap kebaikan. Dan lebih dekat dengan sifat-sifat kemunafikan. Naudzubillah.

Orang-orang semacam itu wajib segera dibangunkan dari kelalaian. Jangan sampai anugerah umur dari Allah disia-siakan begitu saja tanpa ada pergerakan untuk berlomba meraih amal shalih sebanyak-banyaknya. Lagi pula untuk apa kita hadir ke dunia ini kalau tidak untuk beramal shalih. Jika tidak menggunakan kesempatan hidup untuk amal shalih, niscaya kehidupan kita akan sangat rapuh dan dipenuhi kesedihan yang kadang-kadang tidak jelas asalnya dari mana.

Orang yang banyak berbuat amal shalih akan dijauhkan dari kesedihan, seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 277 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Mereka berhasil bangkit, dari kemurungan menuju keceriaan, dari aktivitas yang begitu-begitu saja menjadi aktivitas yang lebih bermanfaaat. Mereka keluar dari kata tak mungkin menjadi mungkin, dari rasa yang tak berguna menjadi berguna, dari pesimis menajdi optimis. Itulah yang merubah mereka dari yang lemah menjadi kuat jiwanya hingga akhirnya banyak hal yang bisa dilakukan, banyak orang yang bisa dibantu, banyak amalan yang bisa dilaksanakan.

Bergeraklah dan berlombalah untuk meraih kebaikan dan amal shalih, agar hidup menjadi semakin hidup, dan terciptalah keberkahan-keberkahan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan. Semoga nasehat sederhana ini mampu menggerakkan hati untuk segera lari dari kelalaian dan sibuk untuk beramal shalih. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita dan semoga kita istiqomah.

Misi dan Perjuangan Rasulullah SAW

Si Maniz 7:41:00 PM
Misi dan perjuangan Rasulullah SAW. Pada tahun keempat puluh, Allah Swt memuliakan beliau SAW dengan ditetapkannya sebagai Nabi dan Rasul dengan turunnya Malaikat Jibril kepadanya, dimana sebelumnya beliau menyendiri beruzlah dan beribadah dengan memilih tempat di Gua Hira disebelah atas Jabal Nur. Tatkala Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, Khadijah pergi menemuinya dan memberitahukan kepadanya tentang peristiwa tersebut. Waraqah berkata: “Demi Tuhan yang nyawa Waraqah berada ditangan-Nya, jika engakau percaya hai Khadijah, telah datang malaikat agung yang pernah datang kepada Musa dan sesungguhnya ia (Nabi Muhammad Saw) adalah nabi dari umat ini.”

Misi dan Perjuangan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW melakukan kegiatan keluar ke kabilah-kabilah Arab untuk melakukan dakwah memperkenalkan ajaran islam kepada mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan sebagian ada yang tetap kafir. Diantara mereka yang beriman, ada enam orang dari penduduk Madinah, yang antara lain karena telah tersebarnya Islam di sana. Pada tahun 12 kenabian, dua belas orang laki-laki dari Madinah menemui Rasulullah SAW. Diantaranya sepuluh orang dari suku Aus dan dua orang dari suku Khazraj dan kemudian mereka semua beriman. Dan dari yang dua belas orang ini, lima orang diantaranya adalah dari kelompok mereka yang enam orang yang telah beriman sebelumnya. Berikut adalah misi dan perjuangan Rasulullah SAW:

1. Membentuk akhlak mulia
Dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Arab pra Islam terdapat pada suatu tradisi yang melanggar etika (akhlak) dan hak asasi manusia; seperti perjudian, minum-minuman keras, perampok, perzinahan, dan perbuatan yang melanggar hukum dan tatanan sosial masyarakat. Sementara, Islam selalu mengajarkan perbuatan terpuji, seperti menolong sesama manusia, melarang melakukan fitnah, tidak mengambil hak orang yang bukan miliknya, melarang mabuk-mabukan, melarang perzinahan, melarang penguburan bayi hidup-hidup dan ajaran terpuji lainnya. Kondisi masyarakat Mekah yang terkenal dengan masa Jahiliyyah, bukan mereka bodoh dalam intelektual, tapi mereka bodoh dalam prilaku yang cenderung merusak tatanan sosial dan tatanan pribadi. Mereka terbiasa melakukan judi, pembunuhan dan minuman keras (khamar).

2. Mengajarkan ketauhidan
Pada masyarakat Arab Jahiliyyah terdapat suatu kepercayaan berbagai tuhan (polyteisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan dan bintang, penyembahan jin, ruh, dan arwah nenek moyang, serta ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, Islam datang dengan membawa ajaran tauhid, penyembahan hanya kepada Allah yang Maha Esa, tidak beranak dan tak diperanakan. Begitu juga yang berkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan Arab pra Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran-ajaran sesat lainnya, sedang Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah dan Al-Qur’an.

3. Menegaskan hari kiamat sebagai hari pembalasan
Masyarakat Arab pra Islam tidak percaya kepada hari kebangkitan, hari pembalasan, sampai ada di antara mereka bertanya-tanya, mana mungkin tulang belulang yang sudah hancur dapat dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Padahal Islam mengajarkan dan memperingatkan kepada manusia, bahwa dunia ini hanya sementara dan tempat yang abadi adalah akhirat. Nabi Muhammad pemprioritaskan dakwahnya kepada ajakan untuk mempercayai adanya hari pembalasan. Mereka perlu menjaga kehidupannya untuk selalu sesuai dengan aturan dan tuntutan Allah swt. Setiap kebaikan akan mendapat balasan kebaikan. Sebaliknya setiap kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal. Nabi Muhammad berusaha meyakinkan para pengikutnya akan janji Allah bagi orang yang beriman.

4. Mengangkat dan melindungi hak asasi manusia
Di dalam kehidupan masyarakat Arab pra Islam terdapat tradisi perbudakan manusia. Jual beli manusia (trafiking) merupakan hal biasa. Perbuatan itu mereka lakukan tanpa penyelesaian seolah tanpa dosa. Sedangkan Islam mengajarkan manusia itu sama derajatnya, hanya takwa yang membedakan mereka. Kehadiran Islam justru untuk mengangkat martabat mereka yang tertindas seperti para dhuafa dan fakir Arab kafir dan mukmin di tanah Arab, Mekah. Selain itu, tradisi yang melanggar hak asasi manusia adalah menganggap wanita sebagai aib keluarga. Kebiasaan membunuh dan mengubur anak wanita menjadi alat untuk menghilangkan aib keluarga. Islam datang untuk memuliakan dan mengangkat derajat wanita pada posisi yang tinggi dan terhormat.

5. Kondisi masyarakat Mekah yang menyembah berhala
Nabi Muhammad saw mendapat tugas mengajak masyarakat Mekah untuk menyembah Allah swt, Tuhan yang Maha Esa. Ajakan Nabi Muhammad saw bertentangan dengan kondisi masyarakat Mekah saat itu yang menyembah berhala.

Kemuliaan Makkah dan Madinah bagi Umat Islam

Si Maniz 7:12:00 PM
Kemuliaan Makkah dan Madinah bagi Umat Islam. Dajjal tidak akan memasuki kedunya hingga akhir zaman. Dalam hadits Fathimah bin Qois radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan, “Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam selain Makkah dan Thoybah (Madinah Nabawiyyah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim no. 2942).



Kemuliaan Makkah bagi Umat Islam

Di Makkah berdiri masajid tertua di dunia. Abu Dzar al Ghifari bertanya, “Masjid apakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Haram.”

Abu Dzar bertanya lagi, “Lantas masjid apa?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Aqsha.” Berapa lama jarak pembangunan kedua masjid itu? “Empat puluh tahun,” kata Rasulullah. (HR: Bukhari).

Sebagaimana Allah menyebutkan mengenai do’a Nabi Allah –kholilullah (kekasih Allah)- Ibrahim ‘alaihis salam; “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Dajjal akan muncul dan menelusuri muka bumi. Tidak ada satu negeri pun melainkan Dajjal akan mampir di tempat tersebut kecuali Kota Makkah dan Madinah karena malaikat akan menjaga dua kota tersebut.

Makkah adalah kota yang dilindungi Allah dari kerusakan dan kepunahan populasinya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah tentang Harāmnya berburu saat berihram: “Sesungguhnya tanah ini telah di-Haram-kan oleh Allah, maka tidak boleh ditebang tumbuhannya, tidak boleh diburu hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut satupun barang yang hilang padanya, kecuali orang yang mencari pemiliknya.” (HR Bukhari).

Ketika Allah menundukkan kota Makkah untuk Rasulullah, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Shalallahu ‘Alaihi Wassallam Makkah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barangsiapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash).” Lalu Abbas berkata: kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: “Kecuali tumbuhan idkhir. (HR Bukhari).

Dibanding kota lain, Allah memberi keistimewaan pada Makkah. Disamping paling tua, shalat di Masjidil Haram juga lebih utama ketimbang di Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya.” [HR Ahmad, Ibnu Majah].

Kemuliaan Madinah bagi Umat Islam

Madinah menjadi kota penting bagi umat Islam. Puluhan ribu orang berkunjung ke kota ini tiap hari. Tak lain, karena di kota ini berdiri masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Masjid Nabawi.

Di dalam masjid ini bersemayam jazad manusia yang sangat dicintau umat Islam di seluruh duni, Rasulullah dan dua sahabat utamanya; Umar bin Khathab dan Abu Bakar. Tentu saja, ribuan orang tersebut datang untuk menziarahi Masjid Nabawi dan makam baginda Rasulullah beserta sahabatnya.

Selain itu, shalat di Masjid Nabawi pahalanya sangat istimewa. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, “Pahala shalat di masjidku ini seribu kali lebih baik dari pahala shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram.”

Masih ada lagi keutamaan dari kota yang dulu bernama Yatsrib ini, antara lain: keberkahannya dua kali lipat keberkahan Makkah. Itu seperti doanya Rasulullah, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim. “Ya Allah, jadikanlah keberkahan di Madinah dua kali lipat dari keberkahan di Makkah.”

Madinah negeri yang baik. Rasulullah bersabda; “Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Mu’adz Al Anbari] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Adi bin Tsabit] ia mendengar [Abdullah bin Yazid] dari [Zaid bin Tsabit] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Madinah itu adalah negeri yang baik. Dan ia akan menyingkirkan para penjahatnya sebagaimana api yang menyingkirkan kotoran perak.” [HR: Hadits Muslim no.2454]

Rasulullah bersabda; “Tidak ada satu negeri pun kecuali akan didatangi (dikuasai) Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di negeri tersebut kecuali ada malaikat yang menjaganya. Kemudian Dajjal datang ke suatu daerah -di luar Madinah- yang tanahnya bergaram. Bergoyanglah Madinah tiga kali, Allah keluarkan dengan sebabnya semua orang kafir dan munafiq dari Madinah.” (HR. Muslim no. 2943)

Tempat utama untuk wafat. “Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mampu meninggal dunia di Kota Madinah hendaknya ia melaksanakannya, sesungguhnya aku akan bersaksi bagi siapa saja yang meninggal di Kota Madinah.” (HR Ibnu Majah)

Hadist yang sama juga diriwayatkan Ibnu Hibban, Ath Thabarani dan Al Baihaqi.

Dengan sejumlah keutamaan tersebut, wajar kalau orang berbondong bondong datang ke Madinah. Barangsiapa melakukan sebuah kejahatan atau melindungi pelaku kejahatan di Madinah, ia akan mendapat kutukan dari Allah, malaikat, dan seluruh umat manusia. Pada hari kiamat, tidak akan diterima amalannya yang wajib maupun yang sunnah.

Pengertian Haji Menurut Bahasa dan Istilah

Si Maniz 11:55:00 PM
Pengertian haji menurut bahasa dan istilah. Agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai persamaan antar manusia, semua dipandang sama kecuali dalam perihal ketakwaan kepada Ilahi. Ketaatan kepada Tuhan semesta alam inilah yang akan mengangkat derajat manusia di akhirat kelak, bukan dari fisik, harta, ataupun popularitas di dunia. Ibadah yang mengharuskan Anda aktif. Ibarat alam semesta yang telah Allah SWT ciptakan yang terus bergerak dalam rotasi dan revolusinya masing-masing.

Pengertian ibadah haji adalah ibadah perpaduan semua unsur. Baik kesiapan hati, harta yang cukup, dan persiapan mental serta fisik. Terakhir adalah panggilan Allah subhanahu wata’ala. Sebuah manifestasi pergerakan umat Islam sedunia yang terkonsentrasi di Mekah setahun sekali. Pergerakan itu didukung kelancaran transportasi.

Ibadah haji merupakan perlambang dari persatuan kaum muslimin dalam satu akidah. Semua manusia berkumpul tidak membedakan ras, warna kulit, bahasa dan wilayah asal mereka. Seluruh jamaah bersatu dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ukhuwah islamiyyah akan sangat terasa bagi mereka yang pernah melaksanakan ibadah yang suci ini. Tidak ada perbedaan antara si kulit putih dan hitam sebagaimana yang terjadi di sebagian belahan dunia hingga sekarang.

Pengertian Haji Menurut Bahasa dan Istilah


Pengertian haji menurut bahasa ialah menuju/mengunjungi. Etimologi bahasa Arab menunjukkan kata-kata ‘Haji’ berarti qashd artinya: bermaksud, tujuan atau mengunjungi. Secara syar’i adalah  menuju baitullah mengunjungi tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah yang ditentukan pula.

Secara estimologi (bahasa), Haji berarti niat (Al Qasdu), sedangkan menurut syara’ berarti Niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus.Temat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas adalah selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jumroh).

Pengertian haji menurut bahasa dan istilah adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang mampu secara material, lahir dan batin. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu adalah bulan-bulan haji yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumroh, dan mabit di Mina.

Haji adalah ibadah yang difardhukan bagi kaum muslimin yang mampu melaksanakannya. Haji pun merupakan pilar Islam yang lima setelah Syahadat, Sholat, Zakat dan Puasa. Menempati urutan terakhir bukan berarti melaksanakan ibadah haji tidak penting, melainkan Allah Maha Tahu akan kemampuan hambanya. Meski ibadah haji hanya diwajibkan satu kali selama hidup, namun tidak jarang orang melaksanakannya berkali-kali.

Jenis-jenis Haji

1. Haji Ifrad
Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad jika sesorang melaksanakan ibadah haji dan umroh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, dengan mendahulukan ibadah haji. Artinya, ketika calon jamaah haji mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah haji. Jika ibadah hajinya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah umroh.

2. Haji Tamattu
Pelaksanaan ibadah haji disebut Tamattu’ jika seseorang melaksanakan ibadah umroh dan Haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan ibadah Umroh. Artinya, ketika seseorang mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah Umroh. Jika ibadah Umrohnya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah Haji.

Tamattu’ dapat juga berarti melaksanakan ibadah Umroh dan Haji didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.

3. Haji Qiran
Pelaksanaan ibadah Haji disebut Qiran jika seseorang melaksanakan ibadah Haji dan Umroh disatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji Qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama.

Bagi setiap muslim harus mempunyai niatan untuk berusaha pergi haji ke Masjidil Haram. Sebab haji merupakan sebagian dari rukun Islam, artinya posisinya penting dalam menunaikan kewajiban dalam beragama Islam. Namun tidak semua orang mempunyai kesempatan atau kekayaan untuk berangkat haji. Tapi pastikan dalam diri sendiri untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah ini suatu saat nanti.

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran

Si Maniz 5:54:00 PM
PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran. PIQ merupakan singkatan dari Pesantren Ilmu Al-Quran. Didirikan oleh KH Bashori Alwi Murtadho pada tanggal 1 Mei 1978. Sesuai dengan namanya, PIQ mempunyai spesialisasi dan prioritas pengajaran pada kitab suci Al-Quran. Hal ini erat kaitannya dengan figur KH Bashori Alwi Murtadho sebagai seorang intelektual dan notabene pendiri Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz, suatu lembaga yang banyak melahirkan intelektual Al Quran di Indonesia.

Pendiri PIQ Singosari Malang, KH Bashori Alwi Murtadho adalah ulama ahli Al Quran yang berpengaruh di dalam maupun luar negeri. Beliau dilahirkan dari pasangan bahagia, Kiai Alwi Murtadlo dan Nyai Riwati. Kiprah dan andil besar KH Bashori Alwi Murtadlo di bidang ilmu-ilmu Al Quran sungguh luar biasa. Bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan (alm.) Fuad Zain, dia pernah diundang untuk membaca Al Quran di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair dan Libya).

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran

KH Bashori Alwi Murtadho tercatat sebagai tokoh kaliber nasional dan internasional di bidang Tilawatil Al Quran. Beliau salah satu pendiri Jam’iyatul Qura’ (Organisasi para qari’ dan penghafal Al Quran), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Al Quran tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. Ustadz juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional. Sampai sekarang, beliau tidak pernah absen menjadi juri, baik pada MTQ dan STQ Nasional, maupun MTQ tingkat provinsi. Di samping itu, beliau dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003).

PIQ Singosari sering dijadikan objek comparative study dan penelitian oleh kalangan pesantren, universitas, dan lembaga-lembaga kajian lain. Namun dalam perkembangannya, Bahasa Arab juga memperoleh porsi perhatian yang besar, sebagai media pengembangan wawasan berpikir dan alat untuk menganalisa keilmuan Islam klasik & modern. Mencetak kader-kader da’i muslim, generasi qurani yang mandiri, yang mampu mengembangkan pengetahuan agama mereka bagi agamanya, bangsa, dan negaranya dengan tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketika santri berada di tengah-tengah kawasan salah satu pondok pesantren terbaik di Jawa Timur ini, mereka akan merasakan nuansa lain dalam belajar. Melalui berbagai saran fisik dan non-fisik yang dimiliki Pesantren ini, para santri telah disiapkan untuk mendapatkan ilmu-ilmu Al Quran dan Bahasa Arab.

Pesantren Ilmu al-Quran Singosari Malang dipercaya umat di dalam pengajaran dan pengembangan ilmu-ilmu agama. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah santri baik lokal maupun non lokal yang berasal dari luar kota (Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Irian Jaya) yang diikuti dengan pencapaian prestasi yang semakin meningkat, baik ketika mengikuti event-event tingkat regional maupun nasional. Bahkan alumni-alumninya semakin banyak yang memegang peranan penting di masyarakat.

PIQ Singosari, mencetak generasi unggul di bidang Al Quran dan Bahasa Arab. Dengan fasilitas yang mumpuni dan konsep pemakaian bahasa asing yang berjalan dengan baik, maka secara sekilas bisa dipastikan bahwa alumninya adalah para santri yang benar-benar siap terjun ke dunia masyarakat. Ibarat berjalan di tengah gurun, para santri seakan menemukan sebuah oase. Jadi tidak berlebihan bila setiap tahunnya banyak calon santri yang mengantri, daftar masuk untuk dicetak menjadi generasi Qurany yang berkualitas.

Kontak
Alamat: Jl. Raya 107 Singosari Malang, 65153
Telepon: 0341 – 458340
Email: info@piqsingosari.com
Website: http://piqsingosari.com/
Grup FB: https://www.facebook.com/groups/piqsingsari/

PIQ Singosari Malang, Gudangnya Ahli Al-Quran telah berhasil menempati urutan teratas pilihan para orang tua dalam memilih pendidikan terbaik untuk anaknya di bidang Al Quran dan Bahasa Arab karena diasuh langsung oleh Master Al Quran, yaitu KH Bashori Alwi Murtadlo. Di PIQ Singosari diterapkan proses belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan. Selain itu terletak di Malang kabupaten Singosari yang tentunya kawasan sejuk dan indah.

Keutamaan Al-Quran Dibanding Kitab Lain

Si Maniz 5:38:00 PM
Keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain adalah sebagai mukjizat terbesar yang diberikan oleh Allah Taala kepada Nabi Muhammad SAW. Isinya mencakup seluruh aspek agama Islam, mengatur hubungan sesama manusia, sesama makhluk ciptaan-Nya dan juga antara makhluk dengan Sang Pencipta. Memiliki banyak keajaiban yang terkadang sulit dicerna oleh akal manusia, sebagai hamba yang lemah. Tidak ada keraguan di dalamnya. Jika ada sebagian orang yang meragukannya, maka Allah Taala yang akan menunjukkan kebenaran kitabnya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Banyak sekali keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain di seluruh dunia. Kebenaran isi dan pelaksanaannya menunjukkan kemukjizatan Al Quran bagi manusia. Diturunkan secara berangsur-angsur. Melalui kemampuan hafalan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, kemudian dibukukan menjadi satu kitab. Kebenarannya menunjukkan kesempurnaan isinya.

Keutamaan Al-Quran Dibanding Kitab Lain

Merupakan sebuah mukjizat tertinggi yang istimewa dan sulit tergantikan. Kitab mulia ini bahkan tidak akan sanggup ditandingi oleh teknologi apapun di masa yang akan datang. Tentunya tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak membacanya. Diantara keistimewaan Al Quran dibanding kitab lain yang diturunkan sebelumnya ialah:

1. Al Quran memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah dimuat kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, Injil dan lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan yang berupa wasiat. Al Quran juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada para rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, keharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lain-lain.

Allah Taala berfirman, “Kami menurunkan kitab Al Quran kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, untuk membenarkan dan menjaga kitab yang terdahulu sebelumnya. Maka dari itu, putuskanlah hukum di antara sesama mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah. Jangan engkau ikuti nafsu mereka yang membelokkan engkau dari kebenaran yang sudah datang padamu. Untuk masing-masing dari kamu semua Kami tetapkan aturan dan jalan.” (Q.S. Al-Maidah:48)

Jelas bahwa Allah swt. sudah menurunkan keistimewaan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw. dengan disertai kebenaran mengenai apa saja yang terkandung di dalamnya, juga membenarkan isi kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Taala sebelum Al Quran sendiri yakni kitab-kitab Allah yang diberikan kepada para nabi sebelum Rasulullah saw. Bahkan sebagai pemeriksa, peneliti, penyelidik dari semuanya. Oleh sebab itu Al Quran dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu menetapkan mana yang benar, tetapi juga menjelaskan mana yang merupakan pengubahan, pergantian, penyimpangan dan pertukaran dari yang murni dan asli.

Selanjutnya dalam ayat di atas disebutkan pula bahwa Allah Taala memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari Al Quran, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja.

Dijelaskan pula bahwa keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain, diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka.  Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt.

Allah Taala berfirman, “Allah telah menetapkan agama untukmu semua yang telah diwasiatkan oleh-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, (yang semua serupa saja) yakni hendaklah kamu semua menegakkan agama yang benar dan janganlah kamu sekalian berpecah-belah.” (Q.S. Asy-Syura:13)

Kemudian dihapus beberapa hukum yang berhubungan dengan amaliah yang dahulu dan diganti dengan syariat Islam yang merupakan syariat terakhir yang kekal serta sesuai untuk diterapkan dalam segala waktu dan tempat. Oleh sebab itu, maka akidah pun menjadi satu macam, sedangkan syariat berbeda disesuaikan dengan kondisi zaman tiap umat.

2. Keutamaan Al-Quran berupa kalam Allah untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah Taala supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah keistimewaan Al Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Al Quran adalah kitab yang mulia. Tidak akan dihinggapi oleh kebatilan (kepalsuan), baik dari hadapan atau pun dari belakangnya. Itulah wahyu yang turun dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.” (Q.S. Fushshilat:41-42)

Allah Taala berfirman pula, “Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkan peringatan (Al Quran) dan sesungguhnya Kami pasti melindunginya (dari kepalsuan).” (Q.S. Al-Hijr:9). Adapun tujuan menjaga dan melindungi Al Quran dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah Taala dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya.

3. Keutamaan Al-Quran yang dikehendaki oleh Allah Taala akan keabadiannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat Al Quran. Sebabnya tidak lain karena Al Quran adalah firman Allah Taala, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan karya Allah Taala.

Dapat dipastikan bahwa keistimewaan Al Quran tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain. Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Al Quran. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt.

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka kelak bukti-bukti kekuasaan Kami disegenap penjuru dunia ini dan bahkan pada diri mereka sendiri, sampai jelas kepada mereka bahwa Al Quran adalah benar. Belum cukupkah bahwa Tuhanmu Maha Menyaksikan segala sesuatu?” (Q.S. Fushshilat:53).

4. Senantiasa disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu keistimewaan Al Quran sengaja diturunkan oleh Allah Taala dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapa pun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

Allah Taala berfirman, “Sungguh Kami mudahkan pada Al Quran untuk diingat dan dipahami. Tetapi adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar:17). Di antara bukti kemudahan bahasa yang digunakan oleh Al Quran ialah banyak sekali orang-orang yang hafal di luar kepala, baik dari kaum lelaki, wanita, anak-anak, orang-orang tua, orang kaya atau miskin dan lain-lain sebagainya. Mereka mengulang-ulangi bacaannya di rumah atau mesjid. Tidak henti-hentinya suara orang-orang yang mencintai Al Quran berkumandang di seluruh penjuru bumi.

Keutamaan Al-Quran dibanding kitab lain, jelas tidak ada bandingannya dalam hal pengaruhnya terhadap hati atau kehebatan pimpinan dan cara memberikan petunjuknya, juga tidak dapat dicarikan persamaan dalam hal kandungan serta kemuliaan tujuannya. Tidak ada satu ilmu pun yang terlewatkan di Al Quran, bahkan mampu memaparkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.